Tutut Ariani

Dehumanisasi

Posted by: tu2t1 on: November 18, 2008

PADA 1991 di Beijing, seorang perempuan Cina mengatakan bahwa salah satu kelemahan orang Indonesia adalah cengeng, tidak mandiri. ”Sedikit-sedikit mengeluh kepada Tuhan.

Sebentar-sebentar minta tolong kepada Tuhan. Lalu, di mana eksistensi dirinya sebagai manusia?íí tanyanya.

Ibarat sikap orang tua terhadap anak-anaknya, Tuhan pasti tidak suka kalau manusia-manusia di bumi ini cengeng dan selalu menyerahkan semua masalah mereka kepada Dia.

”Tuhan Anda itu kasihan, karena harus menanggung banyak sekali keluhan dan permintaan dari jutaan manusia. Sikap cengeng dan merasa tidak berdaya seperti itu justru tidak bermoral, tidak bertanggung jawab, dan lari dari kenyataan,” katanya.

Di benaknya, manusia memiliki otoritas untuk mandiri menghadapi masalah dan menentukan nasibnya sendiri. Manusia harus bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, tidak bergantung kepada pihak lain. Dalam konteks itulah, eksistensi dan martabat manusia akan ditentukan di muka bumi ini.

Manusia harus mempunyai etos yang tinggi untuk mengatasi berbagai persoalan dunia.
Mirip dengan ungkapan tersebut, Kenneth Phifer (dalam esai The Faith of a Humanist) menyatakan, ”Tidaklah bermoral mengharapkan Tuhan untuk berkarya atas diri kita.

Kita harus bertindak untuk menghentikan peperangan dan kejahatan serta brutalitas di abad ini dan abad yang akan datang. Kita memiliki kekuatan untuk melakukan sesuatu. Kita memiliki kebebasan dalam menentukan tindakan kita sendiri.”

***

UNGKAPAN itu mengingatkan saya kepada kondisi masyarakat Indonesia akhir-akhir ini, yang mirip dengan situasi Abad Pertengahan (sekitar abad ke-14). Ketika itu Eropa diwarnai dengan wacana keagamaan yang sangat doktriner, penuh nuansa ketakutan akan dosa, bencana, dan siksa Tuhan.

Tokoh-tokoh agama dengan penuh semangat membersihkan ajaran dari penyimpangan, sampai-sampai perlakuan sewenang-wenang terhadap para ”pembangkang” justru dihayati sebagai perjuangan akhlak dan kesalehan.
Pada Abad Pertengahan, semangat keagamaan sangat menggebu-gebu.

Terlewat menggebu, sehingga tidak jarang justru melupakan nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan. Orang bicara tentang agama, tentang dogma-dogma, tetapi lupa kepada salah satu hakikat agama, yaitu meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan; memanusiakan manusia.

Muncullah kemudian gerakan awam yang ingin mengembalikan kehidupan kepada kebebasan pribadi yang kritis dan mandiri. Acuannya adalah situasi era Yunani Kuno ketika rasionalitas dan kebebasan manusia dijunjung tinggi. Terjadilah pergeseran cara berpikir dari teologis-dogmatis ke antroposentris dan kritris.

Indonesia belakangan ini, tidak jauh berbeda dari situasi itu. Wacana keagamaan juga menggebu-gebu. Orang sering mengatasnamakan agama untuk melakukan suatu tindakan. Ayat-ayat suci (dari berbagai agama) bertebaran di mana-mana.

Klaim-klaim paling benar dan paling bisa masuk surga pun menjadi jamak. Begitu majunya wacana keagamaan, sampai-sampai seolah-olah manusia atau lembaga tertentu bisa menentukan seseorang masuk surga atau neraka; martir, syuhada atau bukan.

Persis dengan situasi Abad Pertengahan, sekarang terjadi reduksi rasionalitas. Orang tidak rasional dan menyerahkan segalanya kepada kekuatan supranatural, adikodrati. Wajar kalau tempat-tempat ibadah keagamaan penuh umat; tapi dukun-dukun, paranormal, ramalan-ramalan lewat short message services (SMS) pun tidak kalah laris.

***

KEADAAN itulah yang bisa disebut sebagai dehumanisasi. Ironisnya, kemerosotan nilai-nilai kemanusiaan itu justru terjadi di tengah-tengah maraknya wacana keagamaan. Lho? Apakah itu berarti bahwa meningkatnya kehidupan keagamaan mengakibatkan dehumanisasi? Bisa ya, bisa tidak; maybe yes, maybe no.

Ya, kalau agama (dan Tuhan) hanya dipandang sebagai pelarian dari ketidakberdayaan manusia menghadapi persoalan-persoalan duniawi. Tidak, kalau agama (dan Tuhan) justru disikapi sebagai ungkapan rasa syukur manusia atas kehidupan yang mereka peroleh di dunia.

Ya, kalau Tuhan hanya dipandang sebagai tempat mengeluh dan meminta, sehingga manusia menghilangkan eksistensinya sendiri sebagai makhluk paling mulia di dunia. Tidak, kalau Tuhan disikapi sebagai Yang Maha Kuasa, yang menyayangi dan mengasihi manusia sehingga memberikan kebebasan kepada manusia untuk berbuat yang terbaik bagi diri sendiri, bagi sesama, dan bagi bumi ini.

Kata-kata perempuan di Beijing itu jangan-jangan benar. Jangan-jangan banyak di antara kita memang cengeng dan tidak mandiri, hanya menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan dalam bingkai agama. Kita seperti anak-anak yang hanya mengeluh dan meminta kepada orang tuanya.

Sayang kalau keyakinan kepada Tuhan dan agama justru mengurangi etos manusia sebagai makhluk paling mulia, yang punya akal-pikiran dan kreativitas untuk meningkatkan harkat dan martabatnya. Mungkin ada baiknya kita merenungkan hal itu, siapa tahu bisa mendorong terwujudnya manusia-manusia unggul Indonesia.

Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang, kecuali seseorang itu berusaha mengubah nasibnya sendiri.(QS. Ar Rad ayat 11)

Dalam kata bijaknya kelemahan dalam berperilaku berujung pada kelemahan karakter.

Tinggalkan Balasan